Kamis, 30 Juli 2015

Mudik Lebaran ..

Jauh-jauh hari tiket pesawat terbang Lombok - Jakarta sudah ditangan. Dengan harga 700 ribu an, dan pelayanan "full service", saya kira harga tersebut sudah cukup murah. Jadwal penerbangan pukul 14.45, sehingga waktu check-in di Bandara Lombok sekitar pukul 12.30 WITA . Ya..lumayanlah, pagi-pagi bisa melakukan shalat Id, dan bisa bersilaturahmi dulu dengan keluarga. 

Jarak Mataram-Bandara Internasional Lombok sekitar 30 km. Butuh waktu sekitar 1 jam. Jadi kalau cek-in jam 12 maka jam 11 siang sudah harus berangkat. Jalanan cukup sepi, karena memang bertepatan dengan hari raya, jalan-jalan protokol selalu sepi. Dengan pemikiran ini, seharusnya perjalanan bisa lancar tidak ada hambatan. Taksi pun ditelepon untuk pemesanan. Dan ternyata, armada taksi yang tersedia tidak ada. Karena semua supir rata-rata berlebaran. It's ok ... coba cari taksi aja yang mangkal, siapa tau aja ada. Dan ternyata sepi.. !! 

Tampaknya harus mencari akal, alternatif lain pengangkutan menuju Bandara. Seluruh angkutan kota di Kota Mataram pada libur, menambah sulit juga mencari alternatif tersebut. Akhirnya, sekedar iseng aja, ditelepon armada taksi yang tadi, sekedar ingin mengetahui, apakah ada armadanya yang keluar?? Dan ternyata jawabannya positif. Ada armada yang keluar, dan akan segera menjemput ke alamat saya. (Yesss..!!)

Sepanjang perjalanan memang tampak banyak warga yang butuh taksi, karena sering ditemukan warga yang melambaikan tangan ke taksi kami. Ya..cukup beruntung juga saya. Tepat jam 12.00 WITA tibalah di Bandara Internasional Lombok. Papan pengumuman, sudah mempersilahkan pesawat tujuan saya untuk masuk dan segera check -in. Daripada menunggu diluar panas, lebih baik menunggu di dalam. 

Pas check-in diminta KTP oleh petugas, ...dan ini kembali menjadi horor. Istri saya ternyata lupa bawa KTP. Langsung saja segera menelpon rumah untuk membawakan KTP yang tertinggal. Dan beruntungnya ada. Beruntungnya, waktu boarding masih lama, dengan perhitungan (yang mudah-mudahan) tidak meleset, bisa terkejar.

Harap-harap cemas menunggu KTP
Pukul 13.45 WITA akhirnya yang ditunggu juga datang. Lega juga akhirnya. Memang kartu identitas sangat penting jika menggunakan transportasi pesawat terbang. Eh..tidak hanya pesawat terbang aja, kapal laut, dan kereta api harus juga mencantumkan nomor identitas kependudukan juga.

Tidak lama terdengar pengumuman, bahwa para calon penumpang pesawat Batik Air agar segera masuk ke pesawat. Wah..lumayan cepat juga, karena waktu menunjukkan pukul 14.05, sedangkan jadwal keberangkatan pesawat 14.45 WITA. Biasanya, boarding sekitar 15 menit sebelum keberangkatan, ini malah lebih dari 40 menit sebelum keberangkatan.

Kembali keberuntungan bahwa kartu identitas sudah dipegang, membuat hati tetap tenang. Entah bagaimana penumpang yang lain, yang masih check-in. Sepertinya memang pesawatnya harus menunggu penumpang-penumpang tersebut, karena jadwal boarding yang terlalu awal. 

Didalam kabin pesawat
Berjalan menyusuri lorong Garbarata, kanan kiri tampak lengang. Sampai pada akhirnya berhenti didepan pintu pesawat untuk antri masuk. Ini merupakan pertama kalinya, menggunakan maskapai penerbangan Batik Air. Batik Air merupakan anak perusahaan dari Lion Air. Jika Lion Air  segmen pemasarannya adalah penerbangan murah. Maka Batik Air kebalikkannya. Layanan Batik Air, seperti maskapai kebanggaan Indonesia, yaitu Garuda Indonesia. Lebih mahal dibanding Lion Air tapi diharapkan tidak lebih mahal dari Garuda.

Pesawat jenis Boeing 737-900 ER, merupakan pesawat baru buatan Boeing, Amerika. Ini juga terlihat dari kabinnya yang masih kinyis-kinyis. Dan ternyata, isi penumpangnya tidak terlalu penuh. Bahkan sampai setengahnya pun tidak. Hmmm.. mungkin karena terlalu mahal atau promosinya kurang. Tapi biarlah, saya nikmati aja, enak bisa pindah-pindah tempat duduk. 

Menikmati kosongnya pesawat


Jum'at, 17 Juli 2015


Senin, 13 Juli 2015

Checklist Ramadhan

Bulan Ramadhan telah memasuki hari ke 25, yang artinya sebentar lagi bulan yang penuh berkah ini akan berakhir. Sesuai dengan apa yang menjadi tujuan dalam Al-Qur'an adalah, Puasa itu menjadikan umat Islam menjadi beriman dan bertakwa. Lalu, sudahkah tujuan-tujuan itu tercapai ?? Ataukah kita hanya sekedar menunaikan kewajibannya saja, sambil menghitung-hitung pahala yang telah kita dapat.

Lalu apa standarnya jika tujuan beriman dan bertakwa itu berhasil ?? Sehingga puasa yang sudah kita jalani sebagai umat Muslim itu sukses. Saya mengutip pendapat dari seorang netizen yang bernama Hasanudin Abdurahman. Terdapat checklist-checklist, atau daftar-daftar yang bisa dijadikan, puasa yang kita jalani sukses, dan tentu saja, bisa mengubah pola pikir dan budaya kita sebagai muslim yang bersahaja 'rahmatan lil alamin. 

1. Puasa itu Latihan Disiplin  

Ketika mata sedang beristirahat dengan tenangnya, harus selalu siap untuk bangun sahur sesuai waktunya. Kemudian segera berbuka juga sesuai dengan waktunya. Pembiasaan tersebut akan mengubah irama hidup kita. Pertama kali akan terasa berat, tapi ketika sudah melewati masa satu minggu, maka akan terbiasa. Ketika azan subuh berkumandang, hentikan segala makan dan minum, sampai kembali lagi ketika azan magrib. Ketika prosesnya berpuasa, siapa yang mengawasi ?? Tidak ada yang akan mengawasi. Hanya kita sendiri dan Allah SWT yang tahu. Berlatih bahwa seluruh kegiatan kita agar baik dan tertib, tidak perlu ada pengawasan. Semata-mata berdasarkan hati nurani dan niat berpuasa. Jika puasanya berhasil, maka paham akan disiplin waktu dan ketertiban

2. Puasa itu Latihan Jujur

Tak ada yang membedakan antara orang puasa dan tidak puasa. Yang menjalankan puasa, bisa melakukan makan dengan sembunyi-sembunyi. Apapun yang dilarang ketika puasa, bisa dilakukan tanpa ada seorangpun yang tahu. Tapi jika niat sudah membatu, maka tak akan ada penyelewengan pada ibadah puasa. Jika puasa berhasil, maka akan menjadi orang jujur 

3. Puasa itu Latihan Sabar

Begitu banyak godaan yang bisa membatalkan pahala puasa. Amarah akan menggelegak ketika kondisi badan dalam keadaan lapar. Tapi sabar adalah sesuatu yang sangat penting dalam hidup bersosialisasi. Menghilangkan ego, demi kepentingan bersama. 

4. Puasa itu Latihan Menjaga Lisan

Diera keterbukaan ini,semua orang bebas mencurahkan segala macam pendapat. Dari yang berbentuk sindiran halus, sampai pada cacian dan makian. Bertopeng dengan kata "kritis" tetap akan melukai hati seseorang, menjauhkan dari silaturahmi. Maka jika pandai menjaga lisan pada bulan Ramadhan, maka Puasanya sukses.

Selain itu, ada kewajiban lain, yang juga berfungsi menentramkan hati, membersihkan harta yang telah didapat, yaitu Zakat Fitrah. Simbol dari kepedulian kepada sesama, bahwa kebahagian sepatutnya menjadi milik bersama, terutama bagi seluruh umat Muslim.

Jadi sejauh mana kesuksesan anda berpuasa ??

Jumat, 10 Juli 2015

Wall-E dan Pelajaran Kehidupan

Wall-E merupakan film animasi buatan PIXAR, yang disutradarai Andrew Stanton. Film buatan tahun 2008 ini memberikan tema yang cukup menarik dan menyentuh. Dengan menganalogikan sebuah robot, tetapi tujuan utamanya adalah kepada manusia. 

Berlatar belakang bumi di masa depan, benar-benar di masa depan. Saat itu bumi dalam kondisi sangat buruk. Masalah sampah, menjadi hal yang sangat pelik. Ketika semua manusia sudah tidak peduli lagi dengan pengolahan sampah.Hingga pada akhirnya, manusia memilih meninggalkan bumi dengan pesawat super besar bertenaga nuklir, untuk mencai "bumi" baru yang layak ditempati.

700 tahun kemudian, adalah Wall-E, seorang robot kecil usang bertenaga matahari. Di program untuk mengelola sampah di bumi. Sampah-sampah tersebut di "press" membentuk kotak, kemudian disusun sedemikian rupa secara teratur. Saking banyaknya, sampah tersebut membentuk gedung pencakar langit. Semua dia lakukan sendiri. Hanya seorang kecoa kecil yang selalu menemani/

Pada suatu waktu, Wall-E menemukan sebuah benih, yang tumbuh pada sebuah kaleng. Hal ini menjadi menarik baginya. Dipindahkan benih itu kedalam sepatu bekas kemudian diberi tanah sedikit, agar benih itu tetap hidup. Eve, adalah sebuah robot yang sangat modern. Yang diutus untuk mencari, sumber kehidupan baru. 

Wall-E dan Eve bertemu, di bumi. Wall-E sangat kagum dengan Eve. Karena selama inipun dia di bumi hidup sendiri. Dan, Wall-E merasa jatuh cinta pada Eve ( walaupun seorang robot). Pada bagian selanjutnya adalah, Eve menemukan benih yang disimpan Wall-E, dan ini merupakan suatu tanda kehidupan.

Setting berikutnya adalah di pesawat luar angkasa. Pesawat inilah berisi manusia-manusia yang awalnya tinggal di bumi. Di gambarkan bahwa, manusia di pesawat itu sangatlah gemuk. Seluruh kendali kehidupan hanya berada ditangan dan kursi yang dapat berpindah ke sana kemari. Semua serba otomatis. Saking gemuknya, bahkan untuk berdiripun tidak sanggup. Layaknya seorang bayi yang baru berjalan. Hidupnya hanya sebatas makan dan minum saja.

Film ini sangat bagus. Secara pribadi, saya beri rating 4,5/5. Walaupun minim dialog, tapi dengan melihat aktivitas dan gerakan-gerakan robot kecil ini, kita akan mengerti. Di beberapa bagian kita akan menemukan kelucuan-kelucuan karena keluguan Wall-E. Tapi inilah menariknya. Penonton akan terhanyut. Karena minim dialog, seakan-akan maka kitalah yang menonton ikut terbawa "ingin" mengungkapkan perasaan.

Pelajaran kehidupan setelah menonton ini adalah :
  1. Bagaimanapun seorang individu, tak mampu untuk hidup sendiri. Butuh individu lain agar bisa berbagi segala rasa.
  2. Mencapai sesuatu memang banyak pengorbanan, tidak hanya cinta, tapi hal lain pun demikian. Dibarengi dengan kesungguhan dan ketulusan maka segala pengorbanan, pada akhirnya akan terasa indah.
  3. Jadilah manusia yang aktif dan peduli lingkungan. Teknologi modern bukanlah suatu alasan untuk manusia menjadi berhenti bergerak dan beraktivitas. Teknologi hanya mempermudah saja. Meningkatkan produksi. Tapi tidak untuk membuat manusia lemah dan manja. Seperti yang tergambar pada film tersebut.
Beginilah manusia. Kitalah yang menciptakan robot, tapi justru malah sebuah robot yang mengajari kita. Itulah kesan akhir setelah menonton film ini.



Jumat, 03 Juli 2015

Stasiun Plered

Stasiun Plered
Plered sebenarnya ada 3 kota yang berlokasi di tempat dan daerah yang berbeda. Di Cirebon ada kota yang bernama Plered, di Yogyakarta,juga ada daerah yang bernama Plered. Tetapi yang akan penulis bahas adalah Plered yang berada di Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat.

Kota Plered merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Purwakarta, yang terkenal dengan kerajinan keramik dan gerabahnya. Kejayaan keramik Plered sekitar tahun 80-90'an, namun saat ini kerajinan Plered mulai mendapat pesaing-pesaing ketat dari daerah lain, sehingga saat ini kondisi para kerajinan keramik Plered sangat lesu. Pusat kota tidak berada pada jalur utama, sehingga perkembangan kotanya terkesan agak lambat. 

Stasiun Plered sendiri tepat berada di pusat kotanya, persis masih di kawasan pasar Plered. Stasiun kecil dengan 2 jalur, dan 1 badug. 2 jalur tersebut merupakan jalur utama, karena adanya jalur double track Cikampek-Bandung. 

Hanya kereta lokal Cibatu-Purwakarta saja yang berhenti di stasiun ini. Sisanya merupakan lalu lalang kereta api Argo Parahyangan, Ciremai, dan Serayu. Tetapi kadang-kadang kereta tersebut di BLB (Berhenti Luar Biasa) kan di stasiun ini, untuk sekedar mengecek rangkaian. karena setelah stasiun ini kearah Bandung, jalur kereta akan menanjak.

KA Argo Parahyangan meninggalkan stasiun Plered
Kalau dari arah Purwakarta, maka stasiun ini setelah stasiun Sukatani, sedangkan dari arah Bandung, setelah stasiun Cisomang. 

Sisi lain dari Stasiun Plered adalah, kuliner khasnya, yaitu sate Maranggi. Di kawasan stasiun ini, banyak penjual sate Maranggi yang rasanya juga cukup enak. Selain itu, jika ingin ke waduk Saguling atau Cirata, maka jalan di depan stasiun akan mengarah ke sana. Dulu ketika penulis datang kesini, sangat sulit untuk mendapatkan angkutan umum ke daerah tempat wisata tersebut, mungkin sekarang sudah ada, karena memang minat wisata ke 2 waduk tersebut sangat tinggi. 

Stasiun Plered mungkin tidak begitu besar, namun ada keunikan sendiri didalam kotanya, hanya sayangnya, hanya KA Lokal saja yang berhenti di stasiun ini.

KA Argo Parahyangan BLB di Stasiun Plered


Kamis, 02 Juli 2015

Seraut Wajah Ebiet G Ade

Pria kelahiran 21 April tahun 1954, di Banjarnegara Jawa Tengah. Dialah Ebiet G. Ade. Suara khas selalu menghiasi radio dan kaset tahun 70-an dan 80-an. Tema lagu yang romantis dan melankolis, dibawakan dengan suara yang khas. Bagi anak-anak muda angkatan tahun 2000 an, mungkin belum banyak yang mengenal dia, tapi tanyakanlah pada orang tua mereka, pasti akan bisa menjawab.

Berawal dari orangtua juga yang selalu memutar kaset Ebiet jaman dulu, membuat saya sendiri menjadi salah satu penggemarnya. Camelia, nama yang sangat identik jika mendengar lagu apapun dari Ebiet ini. 

Tak banyak yang tahu, apa kepanjangan dari huruf "G" dibelakang nama Ebiet, berpuluh-puluh tahun mendengar suaranya baru tau kalau nama aslinya adalah Abid Ghoffar bin Aboe Jaffar. Dan huruf "G" itulah kepanjangan dari "Ghoffar"

Ragam tema yang ditampilkan pada lagunya. Sangat humanis. Ada percintaan, ada tema alam, ada kecintaan pada orang tua, kecintaan pada negara, dan bahkan tema religi. Lagu " Aku Ingin Pulang" merupakan lagu terakhir yang diciptakan Ebiet G Ade, sisanya Ebiet membuat album dengan bermacam-macam kompilasi dan instrument.

Favorit saya pada lagu Ebiet, sangatlah banyak, tapi dari semua itu saya menyukai lagu yang berjudul "Nyanyian Kasmaran" . Tentu saja ketika saya lagi kasmaran, ...haha (duluuu .. :p). Dan ini liriknya :
Sejak engkau bertemu lelaki bermata lembutAda yang tersentak dari dalam dadamuKau menyendiri duduk dalam gelapBersenandung nyanyian kasmaranDan tersenyum entah untuk siapa
Nampaknya engkau tengah mabuk kepayangKau pahat langit dengan angan-anganKau ukir malam dengan bayang-bayang
Jangan hanya diam kau simpan dalam duduk termenungMalam yang kau sapa lewat tanpa jawab
Bersikaplah jujur dan tebukaTumpahkanlah perasaan yang sarat dengan cintaYang panas bergelora
Barangkali takdir tengah bicaraIa diperuntukkan buatmuDan pandangan matanya memang buatmu
Mengapa harus sembunyi dari kenyataanCinta kasih sejati kadang datang tak terduga
Bergegaslah bangun dari mimpiAtau engkau akan kehilanganKeindahan yang tengah engkau genggam
Anggap saja takdir tengah bicaraIa datang dari langit buatmuDan pandangan matanya khusus buatmu
 Dan ini videonya :
www.youtube.com/watch?v=YBYoFiBnEMk


Selasa, 30 Juni 2015

Sumbangan Pembangunan Mesjid

Ketukan pintu dan suara salam dari luar mengagetkanku. Ternyata, seorang laki-laki yang masih tetangga rumah datang mengantarkan 2 lembar kertas. Awalnya saya kira undangan,  gak taunya surat edaran pemberitahuan. 

Isi dari pemberitahuan tersebut adalah, bahwa mesjid terbesar di lingkungan perumahan kita akan diperbesar. Rencananya akan dibuat 2 tingkat, dengan rincian biaya terlampir. Biaya total hampir 1 Milyar, dengan sumber dana dari sumbangan donatur Timur Tengah, kemudian bantuan dari Bazis, dan dari 650 KK muslim yang tinggal di perumahan ini. Besaran sumbangan per KK sebesar 500 ribu rupiah, yang kemudian bisa dicicil, bisa 2 kali atau 3 kali.

Pulau Lombok selain sebagai destinasi wisata, juga dikenal dengan julukan "Negeri 1000 Mesjid". Ya.. karena di pulau ini anda akan temui banyak mesjid - mesjid megah dengan arsitektur modern, bukan hanya di kota, bahkan sampai di pelosok-pelosok. Bahkan tidak jarang akan ditemui 2 mesjid megah yang saling berdampingan hanya dipisahkan oleh jalan raya.

Begitulah, masyarakat Pulau Lombok memang terkenal sangat religius.  Pengaruh dari organisasi Islam Nahdhatul Wathan yang cukup besar melatar belakangi hal tersebut. Mungkin sebagian besar orang terutama yang muslim, melihat fenomena ini adalah bagian dari kebesaran Islam. Dari sisi simbolisasi, mungkin ada benarnya, tapi bagaimana dari segi proses dan prakteknya ?

Entahlah, saya hanya seorang yang mencoba melihat dari sudut yang lain. Logikanya... mesjid yang besar tentu mempunyai jamaah yang besar pula, tapi kenyataannya tidak. Mesjid hanya ramai ketika hari Jum'at dan hari-hari besar umat Islam. Selain hari-hari itu biasanya sepi. Bahkan ada yg melaksanakan shalat Jum'at, berbagi tempat giliran. Karena jarak kedua mesjid yang berdekatan, dan mempunyai jamaah di lingkungan yang sama.

Proses pembangunan mesjid juga yang terkadang "memaksakan" diri. Jamaah di suatu lingkungan sebenarnya dengan mesjid satu lantai aja cukup, tapi ada prestise tersendiri jika membangun mesjid 2 lantai. Akibatnya, membengkak dana pembangunan yang tentu saja tidak bisa hanya bersumber pada "patungan" para jamaahnya. Oleh karena akhirnya mengandalkan para pengendara yang lewat, atau membuat proposal sumbangan-sumbangan kepada penduduk daerah lain, yang kadang sampai jauh dari wilayah pembangunan mesjid itu sendiri.

Tak adakah cara yang lebih elegan, yang sifatnya tidak meminta-minta ?? Bisakah membangun mesjid menggunakan prinsip-prinsip efisiensi, dan kaidah keteknisan sipil? Sehingga perencanaan pembangunannya sesuai dengan keperluan jumlah jamaahnya, bukan hanya sekedar mengejar gengsi, prestise, dan simbolisasi belaka.

Seharusnya semua bisa, andai saja umat Muslim bisa tidak terbelenggu akan kebanggaan mayoritas saja.

Mie Goreng Dokdok


Bulan Ramadhan ini tahun ini bikin irama hidup jadi berubah. Yang biasanya tidur malam jam 11, sekarang dari awal Ramadhan hingga saat ini hari ke-13 ... jadi sering larut lebih dari tengah malam. Bisa dibilang setengah begadanglah, soalnya ... ujung2nya ya tidur juga, walaupun cuma 1 atau 2 jam, karena harus bangun sahur.

Dan.. salah satu efeknya adalah .. ya laper ditengah malam. Padahal dah makan 2 jam sebelumnya.  Okee.., apa makanan yang ga bisa bikin kenyang, tapi tetep bisa ngilangin laper ?? Hehehe.. it's easy, kalo orang yang sering begadang pasti dah pada tau... yaitu MIE.

Nah, malam inilah rasanya timbul... pengen makan mie. Favorit yang pasti ya MIE GORENG. Dan dari semua Mie Goreng yang pernah kucoba.. tetep aja kembali pada satu merk, ya.. buatan Indofood itu.

Dulu, ada yang namanya Mie Goreng Duo, tapi sekarang entah kemana. Isinya sih emang banyak.. tapi rasanya bikin enek. Trus ada Mie Goreng S**ap. Ahh... yang ini malah tambah aneh, walaupun dikasih potongan yang "kriuk...kriuk". Dan mie goreng laennya. Sebenarnya ada yang nyaingin rasa enaknya.. yaitu Mie Goreng Dokdok. Cuma di Mataram ga ada yang jual. Cuma ada di Tangerang ..ya mungkin daerah laen ada, tapi baru rasa yang ada di Tangerang.

Mie Goreng Dokdok, itu cuma sebutan ku aja. Dokdok adalah sebangsa kentongan, yang terbuat dari Bambu atau kayu yang dipukul. Nah.. si penjual ini menjajakan dagangannya sambil memukulkan "dokdok" ini. Menunya tidak hanya Mie Goreng aja. Masih ada Nasi Goreng dan Mie rebus. Semuanya enak. Jadillah saya menyebut semua  menu nya dengan menambahkan "dokdok" .. Nasi Goreng Dokdok, Mie Kuah/Rebus Dokdok, dan seterusnya.

Kini di Mataram.. tak ada yang namanya "Dokdok", jadi pilihannya.. ya In**mie Goreng. Bungkusnya ya yang warna putih itu.  Selain bungkus itu.. tetap kurang greget. soo.... Let's  eat

Sabtu, 27 Juni 2015

Ke Sukabumi-Cianjur Dengan Kereta Api

Akhir bulan Desember 2014, ada tugas menghadiri seminar di Bogor. Kesempatan ini  tak disia-siakan untuk mencicipi perjalanan ke arah selatan dari Bumi Pakuan dengan menggunakan Kereta Api.

Pecel Bunga Kecombrang Dalam Kereta

Gaya Baru Malam Selatan memasuki Stasiun Kroya, menjelang akhir senja. Dengan segera, para pedagang beramai-ramai, memasuki kereta.

"Klanting...Klanting!"
"Peceeeel...Peceeelll!"

Penjaja pecel 

Perut ku memang terasa lapar, seketika itu juga kupanggil tukang pecel.

"Buuu...pecelnya, bu!"
"Iya mas..sebentar"
"Berapa satu porsi, bu?"
"Tiga ribu rupiah aja..mas,kalo tambah bakwan ma peyek lima ribu rupiah "
" Ya udah.. saya pesan yang lima ribu rupiah, biar kenyang"

Sekilas saya melihat potongan-potongan daun berwarnamerah muda. Biasanya, kalo pecel cenderung berwarna hijau. Ini warna sangat mencolok sekali, sehingga membuat penasaran.

"Ini apa bu ?"
"Ooo..ini bunga kecombrang mas"
"Kecombrang ? Apa itu bunga kecombrang bu?"
"Bunga Kecombrang itu bunga teratai ..mas "
"Ohh.. enak to bu?"
"Ya dicoba aja mas..biar gak penasaran"

Pecel bunga kecombrang


" Ini mas ..pecelnya"
"Makasih ya bu..ini duitnya"

Saking laparnya sudah tidak sabar makan pecel. Langsung saja kulahap, tanpa perduli sekitar yang masih riuh rendah dengan suara para pedagang. Seketika ada rasa dan aroma yang sangat kuat didalam mulut. Berbeda dengan pecel kebanyakan, mungkin inilah rasa dari bunga kecombrang. Kuambil lagi satu sayatan, tanpa dicampur dengan sayuran lainnya. Positif....ini rasa bunga kecombrang. Baru kali ini merasakan pecel dengan sensasi yang berbeda. Mak nyuuusss... kata Bondan Winarno.

Bunga Teratai
Bunga kecombrang adalah bunga teratai. Ya..Teratai yang itu, yang hidup diatas air.Tak pernah kuduga bahwa, bunga yang indah berwarna merah muda itu bisa dimakan. Selama ini memang makan pecel isinya, ya beraneka macam sayuran, dicampur tempe, bakwan, dan peyek. Tapi ini, dengan bunga kecombrang bikin sensasi yang berbeda. Unik dan sangat enak...

Tapi sekarang jika naik kereta, kenangan ini tidak akan pernah ada lagi. Seluruh stasiun merupakan daerah terlarang untuk pedagang asongan. Setiap kereta berhenti, akan terasa sepi. Tak ada lagi kegaduhan, tak ada lagi kuliner khas tiap daerah yang dilewati kereta. Dan...hal seperti ini yang aku rindukan. Ya .. pecel bunga kecombrang sudah membuat kenangan yang dalam dihati.




Episentrum

"Ma...ayo, Ma...nanti kita ke Matahari ya Ma !"
"Iya..nak, nanti..biarkan mama selesaikan pekerjaan ini dulu.

Pinta seorang anak yang berusia sekitar 9 tahun, setelah menerima raport kepada ibunya. Matahari bukanlah matahari yang bersinar menyinari bumi, tapi merupakan salah satu department store, yang baru saja berdiri di kota Mataram ini. Bagi warga di kota besar seperti Jakarta, Bandung ataupun Surabaya, Matahari Dept. Store bukan merupakan nama yang asing. Fashion adalah jualan utama dari perusahaan ini.

Kota Mataram merupakan salah satu destinasi wisata. Sebagai ibukota dari Propinsi Nusa Tenggara Barat, sudah selayaknya memang kota Mataram memiliki pusat keramaian publik. Pusat perdagangan modern di kota Mataram cuma ada satu  yaitu, Mall Mataram. Dan pertengahan Juli nanti akan bertambah lagi yaitu Mall Episentrum atau Lombok Epicentrum Mall. dan salah satu booth nya yaitu Matahari sudah berdiri.

Matahari Dept. Store
Begitu antusiasnya warga kota menanti berdirinya Mall ini, Bahkan walaupun baru ada Matahari Dept. Store, penduduk tetap berdatangan, walaupun hanya sekedar melihat-lihat saja. 

Lombok Epicentrum Mall

Tak dipungkiri bahwa munculnya pusat perdagangan modern, menjadi salah satu motor serta indikator pergerakan ekonomi kota. Hanya saja dari sisi lain, bisa dilihat seberapa besar konsumtifnya penduduk kota.  Ada kesan mempunyai derajat sendiri jika membeli barang di mall dibandingkan di pasar tradisional, dan para pembeli tersebut harus membayar lebih untuk sebuah nama "gengsi". 

Emang gengsi itu mahal harganya ........ 

Rabu, 24 Juni 2015

Penguasa Jalan

"Arrrgghhhh... " Nyaris saja, mobilku menyerempet seorang ibu-ibu yang mengendarai motor. Dengan membonceng seorang anak didepan dan dibelakang, si Ibu tersebut memotong jalur dengan arah lampu sein yang dia nyalakan tanpa menghiraukan apapun kendaraan yang ada dibelakangnya. Tapi untung saja, kecepatan mobil dalam keadaan rendah, sehingga bisa dikendalikan. Akhirnya saya tegur si Ibu tersebut, tapi apa yang terjadi, justru yang melotot malah si Ibu tersebut (Weehh..)

Sebenarnya, perilaku serampangan seperti ini bisa berlaku pada siapapun, tidak perduli dia ibu-ibu, atau anak gadis, bapak-bapak atau pria lajang, wanita atau laki-laki, dan lainnya sehingga tidak memandang gender dan usia apapun. Tapi entah kenapa, setiap keadaan begini, saya selalu mengalaminya dengan ibu-ibu dibandingkan dengan bapak-bapak. Dan ini tidak hanya saya sendiri yang mengalaminya, ternyata beberapa teman lain pun, dalam situasi tertentu, ya juga mengalami hal yang sama dengan saya. Bahkan dalam lingkup yang lebih luas didunia maya, mengakui, memang ibu-ibu yang mengendarai motor, seringkali bertindak ceroboh. 

Apakah ini menjadi suatu pola tertentu ?? Entahlah, tidak ada satupun ahli yang meneliti ini, atau mungkin belum meneliti fenomena ini. Kadang saya pribadi mengambil kesimpulan bahwa ada kemungkinan sebenarnya wanita itu sudah menjadi kodratnya menjadi manusia yang peragu. Karena ketika dikasih jalan, dia malah diam, eh.. pas kita mau jalan, dia juga jalan..(xixixi). Makanya dalam cakupan luas, wanita tidak cocok sebagai pengambil keputusan, (hehe..itu pendapat pribadi). Atau, mungkin, sudah menjadi tanggung jawab laki-laki, yang harus selalu membonceng wanita ....(hahaha)

Disiplin berlalu lintas, di Indonesia menjadi hal yang sering menjadi trendi dikalangan media sosial. Seseorang mampu mendokumentasikan kelalaian lalulintas, kemudian diunggah di media sosial, dengan tujuan untuk memberikan pealajaran kepada netizen yang lainnya, dan tanggapan komentarnya pun pastilah sangat banyak. Tapi lucunya, kadang yang mengunggahpunn lalai dalam menaati peraturan lalulintas.

Disiplin merupakan kata kunci, ketika seseorang mampu mendisplinkan diri, maka ketika berada dimanapun, baik di jalanan ataupun di suatu tempat, maka dengan mudah segala peraturan akan ditaati. Bagaimana membentuk karakter disiplin ?? Tentunya harus dengan pembiasaan-pembiasaan dari hal-hal yang kecil dilakukan sehari-hari. Sulit ? Ya sudah pasti, tapi harus terus dicoba, kalau tidak, apapun peraturan yang dibuat, akan menjadi percuma.


-------------



                  .


Jumat, 12 Juni 2015

BORDES

Tahukah anda, yang paling mengasyikkan ketika naik kereta api ? Anda pergi ke bordes, berdiri di dekat pintu, tangan berpegangan pada pintu, dan menghirup hembusan angin yang bercampur dengan asap bau solar kereta api. Kegiatan itu adalah hal  wajib jika saya naek kereta, dan sudah berpuluh tahun saya melakukan itu. Walaupun saya dapat tempat duduk, saya lebih pilih  berdiri di bordes dan saya tawarkan kepada orang lain, tempat duduk saya. Entahlah, rasanya gak puas aja kalau hanya melihat dari jendela aja.
Saat itu, tiket tanpa tempat duduk masih berlaku. Lucunya, saya justru berharap untuk mendapat tiket tanpa tempat duduk dibandingkan, dapat tempat duduk (..!!). Dan begitulah... bordes adalah tempat favorit saya. Oya, bagi yang belum tau BORDES, Bordes itu adalah bagian ruang antara sambungan kereta, dan di Bordes juga toilet berada.
Bunyi berisik, dan gemeretak suara roda kereta, bagi sebagian orang seperti TOA murahan, yang bikin berisik, tapi tidak bagi saya. Malahan terdengar seperti irama musik.(edan... gak?l haha)
Tapi itu dulu. Sekarang yang namanya nge-Bordes dilarang. Sangat dilarang. Katanya bisa menimbulkan resiko kecelakaan. Ya.. bisa saja terjatuh. Hmm... memang ada benarnya, tapi ya itu, pemandangan lebih luas dan puas adalah lewat bordes.
Saat ini seluruh rangkaian kereta adalah AC, dengan tempat duduk yang dibuat pas sesuai dengan tiket. Tak ada tiket berdiri. Tak ada pedagang yang boleh masuk rangkaian.  Dilarang merokok .. dan...bla...bla...bla, segudang larangan yang dibuat untuk mengubah citra kereta api.
Sejujurnya...ya, kereta api telah berubah, lebih nyaman, lebih bersih, tapi serasa ada yang hilang. Tak ada riuh rendah, tak ada suara berisik tukang dagang. Terlalu sepi. Istilah kerennya sih 'soul'nya dah hilang. Ciri khasnya dah tidak ada.
Tapi bagaimanapun, saya tidak setuju kalau harus balik lagi ke jaman dulu. Karena saya yakin, yang merasakan kenikmatan naik kereta seperti saya juga tidak banyak. Dimana suara berisik tukang dagang, dan roda kereta adalah sesuatu yang unik. Bau asap kereta, sudah seperti parfum. (Haha..). Dan alasan lainnya adalah, saya sudah tinggal didaerah yang tidak ada jalur kereta. Jadi, cukup pasrah aja dengan perubahan ini, demi kebaikan orang banyak.(hahaay..)
Gerung..

Rabu, 10 Juni 2015

HORMAT

Suatu ketika, sebuah pernyataan mengejutkan dari seorang Menteri Agama tentang masalah hormat-menghormati bagi yang akan melaksanaka ibadah, dan bagi yang tidak. Sebenrnya, ini bukan persoalan, tapi, menjadi sebuah persoalan besar dibumbui dengan intrik-intrik politik dan sifat keegoan yang cenderung ke arah fanatisme buta. Menteri Agama- Lukman Hakim Syaifudin- membuat pernyataan di Twitter, yang mengatakan bahwa, ketika puasa warung tidal perlu menutup, silahkan saja terbuka dan berjualan seperti apa adanya. Dan bagi yang berpuasa diharapkan meng-HORMATI yang tidak puasa untuk melakukan segala aktivitasnya. 

Jegeerrr... kata "MENGHORMATI" ini menjadi dasar perdebatan. Indonesia adalah mayoritas Islam, so pasti, yang menjalankan ibadah puasa ramadhan pasti banyak.. (*katanya) . Begtu kata "MENGHORMATI"  tertulis, sebagian muslim merasa tersinggung, dan pertanyaan yang paling umum adalah, Mengapa kami (umat muslim) yang mayoritas harus "MENGHORMATI" yang tidak melakukan ibadah (minoritas) ???

Sebenarnya, masalah buka tutup warung di bulan puasa adalah bagian dari ETIKA. Bagi saya sendiri, yang namanya ETIKA, berkaitan dengan hati nurani dan semangat toleransi INDIVIDU. Ingat... kata kunci adalah hati nurani dan toleransi individu. Dalam Al-Quran sendiri, ibadah puasa tidak pernah melarang atau menghalangi umat beragama lain untuk menutup warung, atau bahkan warungnya tidak tutup tapi dibuat "tertutup" sehingga aktivitas apapun tidak terlalu mencolok perhatian luar.

ETIKA itu menjadi kebiasaan, dan kebiasaan yang dilakukan secara terus menerus akan menjadi NORMA, kemudian menjadi HUKUM, yang mempunyai sanksi. Masalah warung... belum sampai menjadi HUKUM, tp sudah mencapai NORMA. Apa buktinya?? Beberapa tahun kebelakang berita FPI dan ormas Islam lainnya, menghiasi berita-berita di bulan Ramadhan. Mereka yang tidak menutup usaha warungnya akan dipaksa untuk menutup.   Bahkan dilakukan dengan cara kekerasan. Artinya apa ?? Awalnya ini adalah bagian dari TOLERANSI,  yang kekuatannya ada pada kerendahan Individu atau personalitas pribadinya. Kalau individu tersebut paham, maka dengan segala kerendahan  hatinya,  maka dia akan berusaha untuk turut membantu umat muslim menjalankan ibadahnya.  Tapi kalaupun tidak,  seharusnya tidak menjadi masalah, karena sebenarnya, itu adalah bagian dari ibadah puasa kita. Seberapa besarkah niat anda berpuasa untuk mencari pahala ?? Bukankah semakin besar ujian puasa, semakin besar pula makna dan pahala yang kita dapat ??  Jadi.. menutup atau tidak menutup, sebenarnya umat lain yang tidak berpuasa mempunyai peran dalam menentukan pahala puasa kita.  Dan seharusnya, kita berterima kasih kepada mereka. Betul gak ??

Kalau begitu, bisa jadi Puasa Sunnah pahalanya lebih besar dari Puasa Ramadhan ?? Kenapa enggak ?? Tapi masalah hitung2an pahala..adalah hak prerogatif Allah SWT. Kalo kita melakukan ibadah dengan baik, Insya Allah. ..ganjaran pahalanya juga setimpal .

Jadi intinya...apa yang dikatakan Pak Menteri Agama adalah sesuatu yang wajar dan biasa saja. Janganlah umat muslim menjadi terlalu "sensi" dengan kata "hormat". Kalau kita meyakini bahwa umat Islam adalah Rahmatan lil' Alamin, maka aplikasikanlah kedalam kehidupan yang penuh warna ini, jangan menunjukkan superioritas dengan keegoan dan fanatisme. Yakin lah.. bahwa kalau mengandalkan  egoisme s dan fanatisme, maka cenderung akan merusak agama itu sendiri.

Marhaban Yaa Ramadhan ...

Sabtu, 06 Juni 2015

TULUS

Ya... namanya Tulus, orangnya putih rambutnya agak keriting pendek. Dia merupakan anak dari paman,  dari keluarga istri ku. Bapaknya adalah seorang penjual bakso, dan ibunya adalah seorang ibu rumah tangga biasa. Tinggal di Ampenan, di kawasan kampung nelayan dan masih dikawasan pesisir. 

Hidupnya cukup sederhana, bahkan teramat sederhana, dengan 3 bersaudara, 2 laki-laki dan 1 perempuan. Tapi walaupun mereka tinggal di daerah Kampung Nelayan, yang aromanya amis, kemudian kumuh, namun sosok Tulus beserta adik-adiknya mempunyai badan yang bersih-bersih. Bahkan putih, ngalahin warna kulit yang nulis blogger ini.

Pertama kali bertemu tentu saja setelah saya menikah dengan istri saya. Ketika itu SMA kelas 2, dan bersekolah di sekolah favorit seluruh kota Mataram, mungkin seluruh  provinsi NTB, yaitu SMA Negeri 1 Mataram.  Sekolah favorit disana, bisa merupakan suatu kebanggan, bisa juga merupakan suatu beban. Karena yang namanya favorit, tentu saja membutuhkan tambahan lebih,terutama masalah biaya.

Dengan latar belakang yang bisa dikatakan tidak mampu, dia terus berjuang agar tetap bisa menyelesaikan sekolah dengan baik. Ketika bertemu, orangnya pendiam,  tak banyak berkata apapun walau hanya sekedar basa basi. Tapi, dibalik itu sebenarnya ada potensi yang terpendam. Dia cukup pintar, bahkan menurut penuturan orang tuanya, dia selalu mendapat rangking di kelasnya. Bahkan dia dikatakan beruntung menyelesaikan sekolahnya, karena banyaknya beasiswa yang dia dapat. Ya..hanya dengan cara itulah dia bisa bertahan di sekolah tersebut.

Lingkungan yang sebenarnya bukanlah lapisan bagi "golongan"nya, tetapi harus bisa beradaptasi dengan baik bagaimanapun caranya. Kemudian pada akhirnya, di akhir tahun ajaran dan merupakan tahun terakhir masa sekolahnya di SMA, dia datang kepada saya, meminta nasehat, pendidikan apa yang harus saya tempuh, karena dia bertekad untuk melanjutkan pendidikan namun tidak ingin memberatkan orangtua juga. Sebagai anak pertama, dia sadar bahwa dirinya menjadi contoh bagi adik-adiknya. Karena kalau dia maju, maka adik-adiknya diharapkan terpancing juga ikut maju.

Gambaran inilah yang mengingatkan diri saya sendiri.  Saya menemukan diri saya pada Tulus ini. Apa yang dia rasakan, saya sangat memahaminya, karena inilah gambaran saya pada saat sekolah dulu. SMAN 2 Tangerang, sekolah yang megah, merupakan salah satu favorit di kota Tangerang juga. Ketika itu saya merupakan lulusan satu-satunya yang diterima di sekolah tersebut.  Dari sebuah SMP yang mungkin "antah berantah" bagi kaum pelajar kota Tangerang.  Tak ada teman yang kenal, tak ada kawan yamg cukup dekat,  sangatlah berat untuk beraktualisasi dan beradaptasi. Tahun-tahun pertama  sekolah disana dipenuhi jiwa yang labil. Semua kebanggaan yang didapatkan ketika masa SMP, seketika menjadi runtuh. Peringkat terakhir, adalah peringkat yang cukup membuat diri "shock" berat. Tak ada yang boleh menghinakan saya seperti ini. Taka ada yang berhak menjatuhkan saya seperti ini, itulah geram ku pada saat itu.

Beruntunglah, walaupun mendapat peringkat terakhir, jurusan SMA saya adalah Biologi,  kenapa beruntung ??? Karena semua pelajaran yang bernama hapalan, sepertinya menjadi momok berat bagi otak saya, kecuali untuk Pengetahuan Umum. 

Begitulah, sampai pada akhirnya, saya lalui SMA dengan "apa ada"nya.  Tak ada romantika, tak ada warna warni, karena fokus pada satu tujuan, wajib lulus dengan predikat yang baik. Latar belakang kesulitan ekonomi pada waktu itu juga yang membuat, niat tetap  tak berubah.

Walhasil, akhirnya lulus, walaupun bukan yang terbaik, tapi tetap membanggakan, karena perjuangan untuk membangkitkan dari yang tadinya terpuruk, cukup berat.

Aku lepas semua peluang untuk dapat masuk IPB dari jalur khusus  (dulu namanya PMDK) , aku relakan untuk tidak ingin  mencoba ataupun ikut UMPTN, tapi yang aku incar adalah kuliah yang berikatan dinas. Dari mulai STAN, AIS (sekarang STIS),  Akademi Penerbangan PLP Curug (skrg STIP) , STPDN, AMG  dan lain sebagainya, semua dicoba. Semuanya gagal, hingga terus mencoba pada tahun berikutnya.  Dan terakhir adalah Akademi Teknik  Elektromedik, dan disinilah berhasil. Walaupun bukan Ikatan Dinas, tapi sepertinya ada prospek.

Itulah yang aku sampaikan pada dia, pilihlah kuliah yang ikatan dinas. Kemudian beberapa hari kemudian orang tuanya minta tolong kepada saya, untuk membantu Tulus, karena dia sangat kuat ingin kuliah. Saya tawarkan untuk mencoba di Tangerang, ikut dengan keluarga saya. Biar ongkos perginya ke Tangerang saya yang tanggung. Tapi saya katakan kepada orangtuanya, saya tidak berjanji apapun, saya hanya memberikan jalan, mudah-mudahan ada rejeki disana.

Itulah dia, seorang yang pendiam, tidak suka berbasa basi, tidak pernah melemparkan candaan, jarang tersenyum, harus jauh dari orang tuanya. Niat sudah bulat, cita-cita menjadi tujuan utama, dan jalanpun sudah terhampar.

2 tahun di Tangerang, ikut dengan keluarga saya, pahit manis dia rasakan. Mungkin banyakan pahitnya dibandingkan manisnya, karena bagaimanapun, dia berada jauh dari keluarganya.  Dia telah mencoba segala test masuk, namun apa daya,  rejeki belum berpihak kepadanya. 2 tahun adalah waktu yang cukup untuk kembali pulang, karena bagaimanapun, tak banyak yang bisa dilakukan diperantauan jika tidak mempunyai bekal yang cukup.

Dan, dia kembali pulang, dia berbeda. Ya ..Tulus berbeda. Dia banyak bicara, banyak bercerita, banyak tertawa. Bukan Tulus yang dahulu, yang pendiam, yang kaku, yang tak kan menyapa kalau tidak disapa. Yang masih menjadi beban saya, dia belum membuktikan dirinya sukses, walaupun juga sebenarnya beban itu tidak perlu seharusnya saya tanggung.

Dia kembali pulang, menjalani kehidupannya dengan caranya sendiri. Tekadnya tetap bulat, harus melanjutkan kuliah, bagaimanapun caranya. Bedanya dengan yang dulu, saat ini dia yakin. Dia tahu apa yang harus dijalanin.  Dia bekerja "part time" sebagai pelayan restoran cepat saji. Dia kumpulkan duitnya untuk biaya kuliah dan kredit kendaraan. Dan benar, dia akhirnya kuliah sampai selesai .

Awal tahun 2014,  dia mencoba lagi ujian test, kali ini adalah ujian penerimaan calon pegawai negeri sipil. Formasi yang dibutuhkan hanya 1 orang, sedangkan yang ikut seleksi mencapai 400 orang. Peluang yang sangat kecil. .... tapi ... dia berhasil lulus. Dia mengatakan bahwa ujian CPNS ini gampang, dibandingkan ketika ujian masuk kuliah ikatan dinas. Syukur ku benar-benar kupanjatkan saat itu. Hal yang selalu menjadi ganjalan, ternyata inilah hikmahnya. Bahagia sekali....sangat bahagia, karena ini momentum yang sangat baik.

September 2014, bagaikan tersambar petir, ... dia hanyut ditelan ombak di pantai Semeti,  Lombok Tengah. Tak ada airmata, tapi hati benar-benar sesak.  5 hari kemudian jasadmu ditemukan kaku. Allahu Akbar ...

Banyak orang yang merasa kehilangan mu, sangat banyaakk... . Untuk seorang remaja yang pendiam, pasti tidaklah begini efeknya. Tapi dia penuh pesona, semua temannya mengakuinya, temannya bilang, dia banyak sekali berubah, begitu hangat, begitu perhatian kepada teman.

Yaah...itulah, saya sendiri belum menemukan apapun dibalik hikmah ini. Rasa kehilangan masih terus bergelayut. Kehilangan "adik" yang sangat dibanggakan ....

Dia Tulus Sugiarto

I'm back

Wuiihh. .. ni blog ampir aja jadi "sampah" nya dunia maya. Gara2 lupa pasword, jd kgk pernah buka2 lagi. Dan tepat pada hari ini dini hari tanggal 6 Juni 2015 pukul 00 : 42, akhirnya terbuka lagi ....yiipiii

Liat2 postingan terdahulu, ternyata dari tahun 2009., berarti nyaris 6 tahun ... dah jadi "sarang laba2 "  ni blog. Emang sebnarnya bagaimanapun juga hasrat untuk mencurahkan segala sesuatu ke dalam bentuk tulisan itu selalu ada, sulit untuk dihilangkan.  Menulis status di facebook,  agak terlalu sungkan, karena dikiranya "curhat", dan dramatisir. Enggak nulis, tapi banyak poin-poin yang ingin dikomentari, atau disampaikan, ga peduli itu penting bagi orang lain atau tidak.

Sempat bikin akun di detik.com, Kompasiana, dan lain-lain. Yang terakhir mencoba masuk ke Kompasiana.  Lagi-lagi menemui jalan buntu gara-gara lupa password.  Sudah segala cara dengan menekan tombol "Lupa Password" tetap aja kagak bisa log-in, bahkan menggunakan akun G+, tetap aja nanyanya password lagi... password lagi. (*hedeeuuhh)

Kembali ke blogspot, postingan-postingan lama ternyata masih tetap awet ajah, dan kayaknya kagak ada yg baca (..haha), ya.. bodo amat sih, lagian juga sebenarnya ga ngarep-ngarep juga pengen dibaca. Postingan tentang anak ku masih kecil, padahal sekarang dah umur 9 tahun, kelas 3 SD, malah dah punya adeknya lagi.

By the way.... ada banyak emang yang pengen diceritain selama 5 tahun vakum didunia per "blogger"an, tapi pelan-pelan aja lah, capek juga nulis sedemikian banyak selama 5 tahun. Lagian sekarang mah, dah dinihari juga, dah ngantuk... mendingan tidur dulu dah, baru besok dilanjut ...

*Yes.. I'm back

................

Selasa, 03 November 2009

PERJALANAN PULANG (bag. Surabaya - Jakarta)



Perjalanan selanjutnya adalah menggunakan KA Bima yang berangkat dari stasiun Surabaya Gubeng pukul 17.00 WIB. Pukul 16.50 KA Bima telah datang di Surabaya Gubeng, namun alangkah kecewanya, karena rangkaiannya agak kusam bahkan terkesan tak terawat. KA Bima merupakan KA legendaris, karena merupakan KA Eksekutif pertama yang ada di Indonesia
. Pada masa jayanya dulu KA ini merupakan KA kelas Elite, dengan menggunakan gerbong kompartemen yang dilengkapi dengan tempat tidur. Namun sekarang KA ini kalah bersaing dengan KA Argobromo Anggrek, yang muncul pada tahun akhir tahun 90'an.
Rangkaian terdiri dari 7 gerbong eksekutif, dan saya menempati gerbong ke-4.Tepat pukul 17.00, KA Bima berangkat,dengan stasiun pemberhentian selanjutnya adalah , Mojokerto.

Kereta berjalan cepat, suasana diluarpun sudah mulai gelap. Tapi, istri dan anakku tidak menampakkan kelelahannya, bahkan malah sepertinya menikmati perjalanannya. Dalam gerbong sangat dingin sekali karena hembusan AC yang terus menerus, kalau naik bis mungkin saya sudah mabuk kali.
Sekitar pukul 18.15, KA Bima masuk Mojokerto. Terlihat dari jendela banyak juga calon penumpangnya. Memang sebelumnya, dalam gerbong yang saya tempati masih tidak terlalu banyak bangku yang terisi namun perlahan-lahan bangku-bangku kosong sekarang mulai terisi. Lima menit kemudian KA berangkat menuju Jombang. Berturut-turut perhentian setelah Jombang adalah Kertosono, Madiun, Solo Balapan, Yogyakarta.
Karena kereta ini merupakan kereta malam, pemandangan diluar tak bisa dinikmati. Dan ini membuat bosan. Hawa AC membuat ngantuk dan ingin tidur, sehingga sepanjang perjalanan mata terasa berat. Akibatnya sampai sejauh mana kereta berjalan saya tidak tahu. Sadarnya ketika kereta berhenti di Stasiun Tugu (Yogyakarta), dan jam menunjukkan sekitar pukul 21.45.
Selepas Yogya, saya tertidur kembali, tetapi tidak nyenyak sekali, karena masih sempat sadar saat dimana kereta berhenti. Kutoarjo, Kebumen Kroya, telah terlewati.Terowongan Ijo pun tanpa terasa juga telah terlewati. Kali Serayu yang legendaris pun tidak bisa dinikmati.
Kereta masuk Purwokerto sekitar pukul 1-an, dengan kesadaran yang berkurang. "Nopia,nopia..Lanting,lanting,oleh-olehnya, pak!" teriakan pedagang dari bordes kereta api, karena tidak berani masuk, akhirnya sedikit menyadarkanku. Cukup lama juga kereta berhenti di Purwokerto, mungkin untuk penggantian masinis. Dan biasanya di Purwokerto ini juga KA Bima dari Jakarta juga saling bersilang,tapi saya tidak dapat melihatnya atau mungkin memang sudah bersilang sebelumnya.
Kereta pun berjalan menuju Cirebon yang merupakan perhentian selanjutnya, dan tiba pukul 03.00."Wah udah mau deket Jakarta nih", kataku dalam hati.Tapi, mulai dari sinilah saya bisa tidur nyenyak.
Ketika sampai Cikampek saya terbangun, matahari sudah mulai keliatan, entah pukul berapa, kereta pun berjalan perlahan,memasuki emplasemen stasiun Cikampek namun tidak berhenti.
Saya berpikir, jika setelah Cikampek maka KA akan berjalan lancar karena ini memang KA eksekutif kemudian juga jalur ganda hingga Jakarta. Tetapi yang terjadi adalah sebaliknya,kereta ini banyak tertahan sinyal masuk.Yang akhirnya ketika masuk stasiun Jatinegara sudah pukul 07.00. Ini telat sekali, karena jadwal tiba di stasiun Gambir adalah pukul 06.00.
Tiba di Gambir pukul 07.30, huuffth...benar-benar telat, tapi yang penting sudah masuk Jakarta. Berjalan dengan agak lemas karena tidur yang kurang kemudian masih berpikir naik angkutan apalagi selanjutnya. Barang bawaan yang besar-besar, macet di jalan, jadi pertimbangan kayaknya gak mungkin naik bis. Pas keluar, banyak yang menawarkan jasa layanan antar hingga rumah, tanpa banyak basa basi akhirnya kupilih salah satu, bahkan tanpa tawar menawar,yang penting sampai tujuan.
Pukul 09.00 akhirnya tiba juga di Bonang (Tangerang), hilang semua lelah dan kantuk. Badan sudah lengket sekali karena keringat yang telah mengering. Langkah pertama yaitu mandi dulu, baru bisa tidur istirahat.


Senin, 26 Oktober 2009

PERJALANAN PULANG (bag. Ketapang - Surabaya)

Setelah istirahat semalam di hotel " Manyar" kami bersiap-siap untuk perjalanan menuju Surabaya dengan Mutiara Timur. Waktu menunjukkan pukul 07.00 WIB sedangkan jadwal keberangkatan kereta pukul 09.00 WIB, tapi rasanya lebih aman kalo datang lebih awal ke stasiun. Jarak dari hotel ke stasiun Banyuwangi Baru kira-kira 500 m, tapi karena banyak bawa barang akhirnya kami memutuskan untuk memesan taksi. Taksipun datang, tanpa tanya macam-macam kami langsung angkut barang dan masukkan ke taksi. Tak disangka tak dinyana, ketika sampai di stasiun tagihan taksinya adalah 25 ribu..!! Giiillaa, di Mataram aja jaraknya sekitar 10 km aja cuma 20 ribu. Tapi karena sedang tidak emut untuk berdebat yaaa, ..lebih baik bayar aja!
Di stasiun sudah tampak keramaian, jadwal kereta paling pagi adalah Sritanjung,pukul 06.00 sehingga seharusnya tidak seramai ini. Terlihat loket tiket sudah ada antrian, langsung aja ikut antri..
Eh, ternyata setelah diperhatikn dengan seksama ternyata loket tiket yang dibuka adalah untuk KA Pandan Wangi (Banyuwangi-Probolinggo), yaa, akhirnya keluar deh dari antrian. Sambil menunggu mencoba untuk sarapan dulu. Sebenarnya di hotel juga sudah dipersiapkan sarapan, gratis lagi..!!! tapi kayaknya ga tenang kalo belum nyampe stasiun, iseng juga sambil photo-photo sekeliling.Akhirnya pukul 08.00 loket untuk Mutiara Timur dibuka, karena tidak ada antrian,kami merupakan pengantri yang paling pertama. Setelah selesai membeli tiket, maka langsung masuk peron. Situasi masih sepi, kembali saya memainkan kamera.
Pukul 08.30, di jalur 1 KA Mutiara Timur telah disediakan, dengan santai kamipun naik, karena untuk keberangkatannya masih sekitar 15 menit lagi.Keadaan gerbongnya masih kosong melompong, mungkin karena bukan weekend kali..tepat pukul 08.50 keretapun berangkat menuju Surabaya. Tak ada hal yang istimewa, namun karena ini adalah perjalanan pertama kalinya menggunakan kereta selama 2 tahun terakhir ini, maka terasa istimewa. Apalagi, bagi istri saya ini adalah pengalaman pertamanya naik kereta dari Banyuwangi (Ketapang).
Pukul 10.00 kereta masuk stasiun Jember,yang merupakan pusat dari DAOP IX. Banyak yang naik, banyak juga yang turun. Saya melihat untuk gerbong terakhir masih tampak kosong. Perbedaan nyata dibandingkan naik kereta dulu terutama untuk kelas bisnis adalah adanya cleaning service di tiap gerbong, sehingga sepanjang perjalanan gerbong tetap terlihat bersih, toilet pun turut bersih. Bandingkan dengan yang dulu, biarpun kelas bisnis tapi pelayanannya sama dengan kelas ekonomi. Ada tukang sapu tapi tukang sapu recehan.
Di daerah sekitar Rambipuji hingga Klakah banyak terdapat perbaikan, terutama untuk penggantian bantalan beton sehingga memaksa kereta untuk berjalan perlahan. Bahkan tampaknya sisi sebelah kanan dari arah Rambipuji beberapa petak telah diratakan, mungkin untuk pembangunan Double Track.
Pukul 15.30, kereta memasuki stasiun Bangil,seperti kita tau, stasiun Bangil ini merupakan pertemuan dua cabang yang berasal dari Malang dan Banyuwangi. Pukul 15.45 memasuki stasiun Sidoarjo, 15.55 keretapun berhenti di Wonokromo, bersilangan dengan KA Mutiara Selatan yang menuju Bandung. Di jalur 3, juga menuju Surabaya masuk KA Logawa dari arah Mojokerto.
Pukul 16.00 akhirnya kami tiba di Surabaya Gubeng
Sejenak kami beristirahat dulu sambil menunggu perjalanan lanjutan dengan menggunakan KA BIMA pukul 17.00, tampak pula di jalur 2 masuk KA Logawa yang sebelumnya bertemu di stasiun WonokromoSaya menilai Surabaya Gubeng tidak semegah bangunannya,seperti tampak photo diatas, karena WC/Toiletnya sangat bau dan agak kotor. Di Gubeng juga tidak mempunyai ruang tunggu penumpang eksekutif, tidak seperti di stasiun Turi, sehingga pelayanan untuk penumpang eksekutif sedikit kurang nyaman. Untuk saja, kami tidak perlu menunggu lama karena sebentar lagi akan masuk KA Bima di jalur 6 yang tiba pukul 16.45.


Jumat, 23 Oktober 2009

PERJALANAN PULANG (bag. Mataram-Ketapang)

Akhirnya tanggal 19 Oktober, saya melakukan perjalanan pulang ke Tangerang sekeluarga. Saya merencanakan naik bis, karena memang ingin menggunakan transportasi dengan kereta setelah berada di P. Jawa. Hari sebelumnya saya sudah membeli tiket bis "TITIAN MAS" jurusan Mataram - Surabaya, dan rencana turun di stasiun KA Banyuwangi Baru (Ketapang).
Bis berangkat sekitar jam 10 pagi menuju Pelabuhan Lembar. Penumpang sangat penuh, dan sebagian besar merupakan para pekerja yang menuju Kalimantan, dengan transit di Surabaya. Kondisi bis sendiri sebenarnya sangat buruk, karena sangat kotor bin buluk, ditambah lagi dengan posisi kursi yang sangat sempit. Banyaknya penumpang juga membuat khawatir, karena mereka menghalangi jalan yang menuju toilet bis, sehingga kalo mo buang air kecil lumayan susah apalagi bisnya AC.
Mataram - Lembar dicapai dengan waktu 45 menit !!!! Waktu yang cukup panjang, karena pada saat masuk pelabuhan Lembar bis ngetem cukup lama, entah apa yang ditunggu. Begitu masuk pelabuhan, ternyata masih menunggu ferry jam 12, Hitung punya hitung sampai Ketapang masih bisa mengejar KA Mutiara Timur malam, jadi it's ok!
Jam 12.15 akhirnya masuk ferry, kemudian langsung mencari tempat untuk istirahat di ferry. Normalnya, Lembar-Padang Bai adalah 4 jam. Ferry akhirnya berangkat pukul 12.45, Perjalanan ferry adalah perjalanan paling membosankan karena waktunya yang cukup lama.
Waktu menunjukkan pukul 16.15 WITA, ferry sudah mendekati dermaga Pelabuhan Padang Bai, tetapi di kejauhan tampak ada ferry lain juga bersandar yang akhirnya memaksa untuk ferry yang saya naiki antri untuk bersandar. Disini mulai ketar-ketir karena sudah melewati toleransi hitungan waktu saya. Pukul 17.15 ferry akhirnya bersandar, tetapi hambatan tidak sampai disitu aja, begitu keluar ada pemeriksaan KTP, sialnya lagi, ada beberapa penumpang yang memang tidak membawa KTP. Dengan terpaksa bis berhenti agak lama untuk menunggu penumpang yang kena razia ini..!!!!
17.40 bis berangkat menuju Denpasar...tidak seperti yang dibayangkan, karena biasanya setelah Padang Bai,supir bis mulai memacu kendaraannya, tetapi ini malah terbalik kecepatan rata-rata mungkin sekitar 50 km/jam, bahkan malah sering disalip motor. Begitu, masuk jalan lingkar luar, tambah parah lagi.. jalan yang biasanya lengang kini ramai sekali bahkan banyak lampu merahnya menambah lama perjalanan..ggrrhh! Disini hati mulai jengkel dan dag dig dug...karena waktu mulai mendesak!
19.10 akhirnya tiba di terminal Ubung Denpasar, bis berhenti sebentar untuk menurunkan penumpang. 19.30 bis masuk rumah makan "KAWI" di daerah Tabanan untuk istirahat makan. 20.00 bis berangkat lagi, harapan saya bis ngebut sampai gilimanuk sebelum jam 22.00 ato paling telat 22.30..tetapi harapan itu sirna setelah supir tetap menjalankan bisnya dengan kecepatan rendah, bahkan sering disalip oleh truk, yang sepanjang pengalaman saya haram hukumnya bis disalip oleh truk.
22.45 bis akhirnya tiba di Gilimanuk, dalam hati masih ada kesempatan mengejar kereta nih.. soalnya lama menyebrang Gilimanuk - Ketapang 15 menit. Tetapi kembali, kali ini ferry lah yang tidak bersahabat dengan aku, begitu akan masuk dermaga Ketapang kembali ferry mengantri bersandar.
23.45 WITA (22.45 WIB) akhirnya bisa bersandar, dan 23.00 WIB tiba di Sta. Banyuwangi Baru, dan dapat dipastikan kami ketinggalan kereta. Dengan langkah kelelahan akhirnya berjalan menuju stasiun sambil berpikir bagaimana selanjutnya, apa menginap di stasiun atau tidak karena membawa anak kecil. Betapa terkejutnya, ternyata banyak penumpang juga yang ketinggalan kereta...., sedikit menenangkan hati tapi kasian si kecil masa tidur di stasiun setelah perjalanan yang sangat panjang. Akhirnya,saya mengambil keputusan untuk mencari penginapan, dan tukang becak mengantar saya ke hotel " Manyar".
Huufffph, perjalanan panjang yang menyebalkan, tetapi ambil hikmahnya aja, karena kita bisa beristirahat sejenak untuk melanjutkan perjalanan esok hari yang sama panjangnya juga..!!

Senin, 19 Januari 2009

tes blog

baru kali ini, gw nyoba blog iseng2 ngeblog. Maksudnya sih biar gak gaptek, tp yang pasti ini emang bikin penasaran.

Rabu, 05 Maret 2008

My child





Sent from my phone using trutap