Sabtu, 06 Juni 2015

TULUS

Ya... namanya Tulus, orangnya putih rambutnya agak keriting pendek. Dia merupakan anak dari paman,  dari keluarga istri ku. Bapaknya adalah seorang penjual bakso, dan ibunya adalah seorang ibu rumah tangga biasa. Tinggal di Ampenan, di kawasan kampung nelayan dan masih dikawasan pesisir. 

Hidupnya cukup sederhana, bahkan teramat sederhana, dengan 3 bersaudara, 2 laki-laki dan 1 perempuan. Tapi walaupun mereka tinggal di daerah Kampung Nelayan, yang aromanya amis, kemudian kumuh, namun sosok Tulus beserta adik-adiknya mempunyai badan yang bersih-bersih. Bahkan putih, ngalahin warna kulit yang nulis blogger ini.

Pertama kali bertemu tentu saja setelah saya menikah dengan istri saya. Ketika itu SMA kelas 2, dan bersekolah di sekolah favorit seluruh kota Mataram, mungkin seluruh  provinsi NTB, yaitu SMA Negeri 1 Mataram.  Sekolah favorit disana, bisa merupakan suatu kebanggan, bisa juga merupakan suatu beban. Karena yang namanya favorit, tentu saja membutuhkan tambahan lebih,terutama masalah biaya.

Dengan latar belakang yang bisa dikatakan tidak mampu, dia terus berjuang agar tetap bisa menyelesaikan sekolah dengan baik. Ketika bertemu, orangnya pendiam,  tak banyak berkata apapun walau hanya sekedar basa basi. Tapi, dibalik itu sebenarnya ada potensi yang terpendam. Dia cukup pintar, bahkan menurut penuturan orang tuanya, dia selalu mendapat rangking di kelasnya. Bahkan dia dikatakan beruntung menyelesaikan sekolahnya, karena banyaknya beasiswa yang dia dapat. Ya..hanya dengan cara itulah dia bisa bertahan di sekolah tersebut.

Lingkungan yang sebenarnya bukanlah lapisan bagi "golongan"nya, tetapi harus bisa beradaptasi dengan baik bagaimanapun caranya. Kemudian pada akhirnya, di akhir tahun ajaran dan merupakan tahun terakhir masa sekolahnya di SMA, dia datang kepada saya, meminta nasehat, pendidikan apa yang harus saya tempuh, karena dia bertekad untuk melanjutkan pendidikan namun tidak ingin memberatkan orangtua juga. Sebagai anak pertama, dia sadar bahwa dirinya menjadi contoh bagi adik-adiknya. Karena kalau dia maju, maka adik-adiknya diharapkan terpancing juga ikut maju.

Gambaran inilah yang mengingatkan diri saya sendiri.  Saya menemukan diri saya pada Tulus ini. Apa yang dia rasakan, saya sangat memahaminya, karena inilah gambaran saya pada saat sekolah dulu. SMAN 2 Tangerang, sekolah yang megah, merupakan salah satu favorit di kota Tangerang juga. Ketika itu saya merupakan lulusan satu-satunya yang diterima di sekolah tersebut.  Dari sebuah SMP yang mungkin "antah berantah" bagi kaum pelajar kota Tangerang.  Tak ada teman yang kenal, tak ada kawan yamg cukup dekat,  sangatlah berat untuk beraktualisasi dan beradaptasi. Tahun-tahun pertama  sekolah disana dipenuhi jiwa yang labil. Semua kebanggaan yang didapatkan ketika masa SMP, seketika menjadi runtuh. Peringkat terakhir, adalah peringkat yang cukup membuat diri "shock" berat. Tak ada yang boleh menghinakan saya seperti ini. Taka ada yang berhak menjatuhkan saya seperti ini, itulah geram ku pada saat itu.

Beruntunglah, walaupun mendapat peringkat terakhir, jurusan SMA saya adalah Biologi,  kenapa beruntung ??? Karena semua pelajaran yang bernama hapalan, sepertinya menjadi momok berat bagi otak saya, kecuali untuk Pengetahuan Umum. 

Begitulah, sampai pada akhirnya, saya lalui SMA dengan "apa ada"nya.  Tak ada romantika, tak ada warna warni, karena fokus pada satu tujuan, wajib lulus dengan predikat yang baik. Latar belakang kesulitan ekonomi pada waktu itu juga yang membuat, niat tetap  tak berubah.

Walhasil, akhirnya lulus, walaupun bukan yang terbaik, tapi tetap membanggakan, karena perjuangan untuk membangkitkan dari yang tadinya terpuruk, cukup berat.

Aku lepas semua peluang untuk dapat masuk IPB dari jalur khusus  (dulu namanya PMDK) , aku relakan untuk tidak ingin  mencoba ataupun ikut UMPTN, tapi yang aku incar adalah kuliah yang berikatan dinas. Dari mulai STAN, AIS (sekarang STIS),  Akademi Penerbangan PLP Curug (skrg STIP) , STPDN, AMG  dan lain sebagainya, semua dicoba. Semuanya gagal, hingga terus mencoba pada tahun berikutnya.  Dan terakhir adalah Akademi Teknik  Elektromedik, dan disinilah berhasil. Walaupun bukan Ikatan Dinas, tapi sepertinya ada prospek.

Itulah yang aku sampaikan pada dia, pilihlah kuliah yang ikatan dinas. Kemudian beberapa hari kemudian orang tuanya minta tolong kepada saya, untuk membantu Tulus, karena dia sangat kuat ingin kuliah. Saya tawarkan untuk mencoba di Tangerang, ikut dengan keluarga saya. Biar ongkos perginya ke Tangerang saya yang tanggung. Tapi saya katakan kepada orangtuanya, saya tidak berjanji apapun, saya hanya memberikan jalan, mudah-mudahan ada rejeki disana.

Itulah dia, seorang yang pendiam, tidak suka berbasa basi, tidak pernah melemparkan candaan, jarang tersenyum, harus jauh dari orang tuanya. Niat sudah bulat, cita-cita menjadi tujuan utama, dan jalanpun sudah terhampar.

2 tahun di Tangerang, ikut dengan keluarga saya, pahit manis dia rasakan. Mungkin banyakan pahitnya dibandingkan manisnya, karena bagaimanapun, dia berada jauh dari keluarganya.  Dia telah mencoba segala test masuk, namun apa daya,  rejeki belum berpihak kepadanya. 2 tahun adalah waktu yang cukup untuk kembali pulang, karena bagaimanapun, tak banyak yang bisa dilakukan diperantauan jika tidak mempunyai bekal yang cukup.

Dan, dia kembali pulang, dia berbeda. Ya ..Tulus berbeda. Dia banyak bicara, banyak bercerita, banyak tertawa. Bukan Tulus yang dahulu, yang pendiam, yang kaku, yang tak kan menyapa kalau tidak disapa. Yang masih menjadi beban saya, dia belum membuktikan dirinya sukses, walaupun juga sebenarnya beban itu tidak perlu seharusnya saya tanggung.

Dia kembali pulang, menjalani kehidupannya dengan caranya sendiri. Tekadnya tetap bulat, harus melanjutkan kuliah, bagaimanapun caranya. Bedanya dengan yang dulu, saat ini dia yakin. Dia tahu apa yang harus dijalanin.  Dia bekerja "part time" sebagai pelayan restoran cepat saji. Dia kumpulkan duitnya untuk biaya kuliah dan kredit kendaraan. Dan benar, dia akhirnya kuliah sampai selesai .

Awal tahun 2014,  dia mencoba lagi ujian test, kali ini adalah ujian penerimaan calon pegawai negeri sipil. Formasi yang dibutuhkan hanya 1 orang, sedangkan yang ikut seleksi mencapai 400 orang. Peluang yang sangat kecil. .... tapi ... dia berhasil lulus. Dia mengatakan bahwa ujian CPNS ini gampang, dibandingkan ketika ujian masuk kuliah ikatan dinas. Syukur ku benar-benar kupanjatkan saat itu. Hal yang selalu menjadi ganjalan, ternyata inilah hikmahnya. Bahagia sekali....sangat bahagia, karena ini momentum yang sangat baik.

September 2014, bagaikan tersambar petir, ... dia hanyut ditelan ombak di pantai Semeti,  Lombok Tengah. Tak ada airmata, tapi hati benar-benar sesak.  5 hari kemudian jasadmu ditemukan kaku. Allahu Akbar ...

Banyak orang yang merasa kehilangan mu, sangat banyaakk... . Untuk seorang remaja yang pendiam, pasti tidaklah begini efeknya. Tapi dia penuh pesona, semua temannya mengakuinya, temannya bilang, dia banyak sekali berubah, begitu hangat, begitu perhatian kepada teman.

Yaah...itulah, saya sendiri belum menemukan apapun dibalik hikmah ini. Rasa kehilangan masih terus bergelayut. Kehilangan "adik" yang sangat dibanggakan ....

Dia Tulus Sugiarto

I'm back

Wuiihh. .. ni blog ampir aja jadi "sampah" nya dunia maya. Gara2 lupa pasword, jd kgk pernah buka2 lagi. Dan tepat pada hari ini dini hari tanggal 6 Juni 2015 pukul 00 : 42, akhirnya terbuka lagi ....yiipiii

Liat2 postingan terdahulu, ternyata dari tahun 2009., berarti nyaris 6 tahun ... dah jadi "sarang laba2 "  ni blog. Emang sebnarnya bagaimanapun juga hasrat untuk mencurahkan segala sesuatu ke dalam bentuk tulisan itu selalu ada, sulit untuk dihilangkan.  Menulis status di facebook,  agak terlalu sungkan, karena dikiranya "curhat", dan dramatisir. Enggak nulis, tapi banyak poin-poin yang ingin dikomentari, atau disampaikan, ga peduli itu penting bagi orang lain atau tidak.

Sempat bikin akun di detik.com, Kompasiana, dan lain-lain. Yang terakhir mencoba masuk ke Kompasiana.  Lagi-lagi menemui jalan buntu gara-gara lupa password.  Sudah segala cara dengan menekan tombol "Lupa Password" tetap aja kagak bisa log-in, bahkan menggunakan akun G+, tetap aja nanyanya password lagi... password lagi. (*hedeeuuhh)

Kembali ke blogspot, postingan-postingan lama ternyata masih tetap awet ajah, dan kayaknya kagak ada yg baca (..haha), ya.. bodo amat sih, lagian juga sebenarnya ga ngarep-ngarep juga pengen dibaca. Postingan tentang anak ku masih kecil, padahal sekarang dah umur 9 tahun, kelas 3 SD, malah dah punya adeknya lagi.

By the way.... ada banyak emang yang pengen diceritain selama 5 tahun vakum didunia per "blogger"an, tapi pelan-pelan aja lah, capek juga nulis sedemikian banyak selama 5 tahun. Lagian sekarang mah, dah dinihari juga, dah ngantuk... mendingan tidur dulu dah, baru besok dilanjut ...

*Yes.. I'm back

................

Selasa, 03 November 2009

PERJALANAN PULANG (bag. Surabaya - Jakarta)



Perjalanan selanjutnya adalah menggunakan KA Bima yang berangkat dari stasiun Surabaya Gubeng pukul 17.00 WIB. Pukul 16.50 KA Bima telah datang di Surabaya Gubeng, namun alangkah kecewanya, karena rangkaiannya agak kusam bahkan terkesan tak terawat. KA Bima merupakan KA legendaris, karena merupakan KA Eksekutif pertama yang ada di Indonesia
. Pada masa jayanya dulu KA ini merupakan KA kelas Elite, dengan menggunakan gerbong kompartemen yang dilengkapi dengan tempat tidur. Namun sekarang KA ini kalah bersaing dengan KA Argobromo Anggrek, yang muncul pada tahun akhir tahun 90'an.
Rangkaian terdiri dari 7 gerbong eksekutif, dan saya menempati gerbong ke-4.Tepat pukul 17.00, KA Bima berangkat,dengan stasiun pemberhentian selanjutnya adalah , Mojokerto.

Kereta berjalan cepat, suasana diluarpun sudah mulai gelap. Tapi, istri dan anakku tidak menampakkan kelelahannya, bahkan malah sepertinya menikmati perjalanannya. Dalam gerbong sangat dingin sekali karena hembusan AC yang terus menerus, kalau naik bis mungkin saya sudah mabuk kali.
Sekitar pukul 18.15, KA Bima masuk Mojokerto. Terlihat dari jendela banyak juga calon penumpangnya. Memang sebelumnya, dalam gerbong yang saya tempati masih tidak terlalu banyak bangku yang terisi namun perlahan-lahan bangku-bangku kosong sekarang mulai terisi. Lima menit kemudian KA berangkat menuju Jombang. Berturut-turut perhentian setelah Jombang adalah Kertosono, Madiun, Solo Balapan, Yogyakarta.
Karena kereta ini merupakan kereta malam, pemandangan diluar tak bisa dinikmati. Dan ini membuat bosan. Hawa AC membuat ngantuk dan ingin tidur, sehingga sepanjang perjalanan mata terasa berat. Akibatnya sampai sejauh mana kereta berjalan saya tidak tahu. Sadarnya ketika kereta berhenti di Stasiun Tugu (Yogyakarta), dan jam menunjukkan sekitar pukul 21.45.
Selepas Yogya, saya tertidur kembali, tetapi tidak nyenyak sekali, karena masih sempat sadar saat dimana kereta berhenti. Kutoarjo, Kebumen Kroya, telah terlewati.Terowongan Ijo pun tanpa terasa juga telah terlewati. Kali Serayu yang legendaris pun tidak bisa dinikmati.
Kereta masuk Purwokerto sekitar pukul 1-an, dengan kesadaran yang berkurang. "Nopia,nopia..Lanting,lanting,oleh-olehnya, pak!" teriakan pedagang dari bordes kereta api, karena tidak berani masuk, akhirnya sedikit menyadarkanku. Cukup lama juga kereta berhenti di Purwokerto, mungkin untuk penggantian masinis. Dan biasanya di Purwokerto ini juga KA Bima dari Jakarta juga saling bersilang,tapi saya tidak dapat melihatnya atau mungkin memang sudah bersilang sebelumnya.
Kereta pun berjalan menuju Cirebon yang merupakan perhentian selanjutnya, dan tiba pukul 03.00."Wah udah mau deket Jakarta nih", kataku dalam hati.Tapi, mulai dari sinilah saya bisa tidur nyenyak.
Ketika sampai Cikampek saya terbangun, matahari sudah mulai keliatan, entah pukul berapa, kereta pun berjalan perlahan,memasuki emplasemen stasiun Cikampek namun tidak berhenti.
Saya berpikir, jika setelah Cikampek maka KA akan berjalan lancar karena ini memang KA eksekutif kemudian juga jalur ganda hingga Jakarta. Tetapi yang terjadi adalah sebaliknya,kereta ini banyak tertahan sinyal masuk.Yang akhirnya ketika masuk stasiun Jatinegara sudah pukul 07.00. Ini telat sekali, karena jadwal tiba di stasiun Gambir adalah pukul 06.00.
Tiba di Gambir pukul 07.30, huuffth...benar-benar telat, tapi yang penting sudah masuk Jakarta. Berjalan dengan agak lemas karena tidur yang kurang kemudian masih berpikir naik angkutan apalagi selanjutnya. Barang bawaan yang besar-besar, macet di jalan, jadi pertimbangan kayaknya gak mungkin naik bis. Pas keluar, banyak yang menawarkan jasa layanan antar hingga rumah, tanpa banyak basa basi akhirnya kupilih salah satu, bahkan tanpa tawar menawar,yang penting sampai tujuan.
Pukul 09.00 akhirnya tiba juga di Bonang (Tangerang), hilang semua lelah dan kantuk. Badan sudah lengket sekali karena keringat yang telah mengering. Langkah pertama yaitu mandi dulu, baru bisa tidur istirahat.